hutan
Halo.
Sudah lama aku ingin berteriak, tapi aku masih lemas. Tak kusadari dinginnya hutan ini sudah mencuri segenap tenagaku. Aku melihat jalan setapak yang menuju kota, tapi aku menghindarinya.
Tentu saja.
Sudah lama aku berusaha menjalin kontak dengan orang lain. Rasanya mendesak dan tak kunjung pergi. Aku menggenggam radio, tapi kubatalkan niatku untuk menyalakannya. Aku nggak berani ambil inisiatif.
Tentu saja.
Aku pernah bertemu dia sebelumnya. Lihat, pintu rumahnya selalu berada di tempat yang sama. Lampunya menyala, dan dapurnya mengebul. Mungkin dia bisa membantu?
Tak kuduga, seiring kakiku beranjak dan mulai membawaku hilang dalam gelap, ia datang.
Dia bertanya, dan ku jawab. Dia menaruh kayu bakar dan menyalakan api. Memang hangat, tapi hati tak nyaman. Tapi di sini aman. Ya kan?
Tidak ada yang namanya ruang aman.
Ujungnya hanya tersisa transaksi: Dia butuh aku. Aku butuh dia.
Aku tidak berani menolak. Sakit rasanya ketika semuanya berakhir, dan yang tersisa hanya:
"Ya sudah kalau kamu tidak mau."
Sakit. Aku butuh dia. Tapi, mungkin, aku ngga butuh dia?
Tapi di luar sana dingin.