benang ruwet

laut

Dalam teori semiotik struktural, sebuah entitas yang ditandai dapat diwakili maknanya dengan penanda. Sebuah tanda adalah entitas yang mewakili entitas lain. Sebuah kata, misalnya, hanyalah berupa kumpulan simbol yang kita sebut sebagai "huruf". Huruf sebenarnya adalah entitas yang cukup abstrak yang tidak memiliki nilai tersendiri. Tapi, ketika huruf-huruf disusun sedemikian rupa dengan urutan tertentu, dapat memiliki arti dan mewakili konsep tertentu.

Entitas sendiri adalah segala sesuatu yang ada, abstrak maupun konkret: jangkar, sendal, apel; memori indah, cinta, waktu; harapan, kesedihan, perpisahan, bahkan kematian. Semua hal bisa diwakili oleh penanda.

Setiap aku terbangun sesaat setelah matahari menampakkan diri dari bawah lengkung langit, tanda-tanda yang sama selalu muncul dalam benak. Mungkin karena setiap hari, aku selalu melakukan hal yang sama. Aku tidak meninggalkan ruang kemudi sama sekali, kecuali ada pekerjaan di luar yang harus segera dilakukan. Kalau aku tidak menjaga arah kemudi, kapal pasti akan berbelok dengan sendirinya, seakan ingin kembali ke pelabuhan, tidak mau bertemu dengan air lepas yang ganas.

Dari pelabuhan, aku sudah dibekali peta dan makanan yang cukup untuk perjalanan. Tidak ada seorang lain yang menemaniku dalam perjalanan panjang ini. Membosankan. Hanya ragu yang menemuiku setiap hari di ruang kemudi. Ia terus bertanya padaku, apakah suplai makanan yang aku bawa sudah cukup? Semakin hari, bukannya bertambah dekat tujuannya terasa menjauh. Apakah aku sudah mengikuti peta dengan benar? Apa yang harus kulakukan nanti ketika sudah mencapai pelabuhan? itu pun kalau sampai. Apa kau masih ingat prosedur untuk berlabuh? Ah, diamlah. Setiap hari, itu-itu saja yang dia tanyakan. Aku pun menyalakan radio dan membiarkan suara lagu menguasai ruang kemudi.

Seleraku dalam musik tidak pernah berubah. Tahukah kalian, bahwa lagu ini adalah lagu yang sama dengan yang aku dengar saat masih duduk di bangku SMK? Ah, yes, sekolah, tempat di mana aku tidak sengaja dipertemukan dengan lagu ini. Sebagai musisi (yang gagal), aku senang memperhatikan struktur dan komposisi sebuah lagu, ketika alat musik membawa makna dalam setiap kunci yang ditekan, tabuhan drum dan getaran senar yang sama bobotnya dengan lirik yang dibawakan penyanyi. Seperti anak sekolah pada umumnya, dulu aku merasa selera musikku adalah yang paling superior, tidak ada lawannya. Inilah lagu terbaik di dunia! semua orang harus mendengarkannya.

Tidak hanya lagu ini yang aku temui semasa sekolah. Tepat 5 tahun 2 bulan yang lalu, di lantai dasar, aku dipertemukan kembali dengan dia. Tidak pernah aku akan menduga dia mengajakku bicara. Aku bukan ahli dalam urusan berkata-kata, asal kamu tahu, tidak ada yang namanya kalimat yang tersusun rapi ketika harus berdiri di depannya. Kegemaranku, meskipun tidak kulakukan terlalu sering, adalah memperhatikan matanya. Mungkin inilah yang membuatku jatuh: kantong matanya jauh dari kata sempurna; warnanya agak gelap, seperti ukiran pada pintu istana yang dibayar mahal oleh raja, menyambut setiap tamu kerajaan yang masuk. Tapi apakah aku layak menerima undangannya? Sejak sekolah dasar aku sudah mengaguminya, tetapi sampai sekarang, aku tidak cukup berani untuk bahkan sekadar berpapasan dengannya. Di satu sisi, aku menyesal tidak pernah sekalipun bertukar kata dengannya. Aku terlalu takut akan apa yang ia mungkin katakan. Kalau saja waktu itu...

Sudahlah. Muak aku terjebak dalam fantasi itu, mari kita menenggalamkan diri dalam kolam fantasi yang lain.

Sekitar satu setengah tahun yang lalu, aku masih berharap (setengah berharap, mungkin? aku sudah tidak begitu ingat) bisa diterima ke akademi pelayaran terbaik di negaraku. Betapa besar harapku saat itu ketika aku berfikir, mungkin lagu ini akan menemani pagiku saat keluar asrama dan berjalan ke ruang kelas. Tentu saja, di alam semesta manapun, berbekal nilai tesku yang tidak layak - menurutku - aku tidak bisa bersaing dengan ratusan ribu pendaftar lainnya. Tentu saja harap itu tidak mampu kutemui. Sekarang, aku di sini, berlayar dengan bendera institusi yang mungkin kamu tidak pernah dengar namanya. Tak apa, toh lebih baik dibanding menganggur.

Melodi ini, selain untuk makna yang dikandung dalam lagu itu sendiri, menjadi penanda untuk banyak sekali entitas - memori - dalam pelayaranku. Banyak yang ingin kuingat, banyak juga yang ingin kubuang. Kemarin, aku baru dengar kalau dia ternyata menyukai band yang sama dengan band favoritku. Ah, coba saja aku mengobrol dengannya, bahkan sedikit saja, tentang lagu ini. Mungkin aku bisa berlayar bersama dengannya sekarang? Mungkin selama ini ia sudah berlayar bersamaku, menjelma dalam lirik dan aransemen, dan aku baru menyadarinya. Yang pasti, aku lebih senang mendengar lagu dibanding ragu.

Tanda-tanda apa lagi yang akan menjadi bagian dari perjalananku nanti?