benang ruwet

tembok

Sudah berapa lama aku sudah dikelilingi tembok ini, aku lupa. Tembok yang selama ini melindungiku. Siapa yang membangunnya? Entahlah, ia sudah ada di sini selama bertahun-tahun. Aku tidak mau pergi ke luar. Faktanya aku nyaman di dalamnya.

Aku ingin keluar.

Di dalamku ada sesuatu yang bergejolak. Ia mendorong aku untuk mengangkat penaku. Ia ingin aku mengiriminya sebuah surat. "Tapi," aku menyanggah, "Ia menakutkan. Bagaimana kalau dia melihatku sebagai orang aneh?" Aku mulai menulis sebuah draf. Haruskah aku mengirim?

Tidak.

Aku akan tinggal sebentar.

Mungkin kita akan menunggu pesan darinya. Ia sudah beberapa kali mengirimkan ku surat. Nanti pasti ada lagi, kan?

Tapi aku mau memulai duluan.

Tidak.

...

Ah, natur manusia. Sulit sekali diberitahu. Ia akan membacanya dan berfikir entah apa tentangku. Dasar bodoh.

Lihat, dia tidak membalas.

Oh.

Aku harus membalasnya secepat mungkin. Tidak, tunggu sebentar. Ayo balas.

Aku ingin menanyakan kabarnya. Aku ingin tahu ia dimana. Aku ingin tahu apakah tugasnya sudah selesai. Aku ingin...

Tahan dirimu.

Aku tidak pernah seperti ini kepada orang lain. Kenapa harus dia?

Bukan cinta. Aku hanya nyaman dengannya.

Aku tahu apa itu "cinta": cinta adalah perasaan yang kurasakan dahulu saat bertemu dengan si anak baru yang pintar, yang langsung memegang piala di atas panggung setelah memenangkan lomba. Yang enam tahun kemudian aku lihat kembali parasnya ‒ yang entah kenapa tidak aku "cintai" lagi.

Sejak itu, tidak pernah ada orang lain yang sanggup memunculkan kata itu di dalam benakku.

Selain dia.

Kalau bukan cinta, apa ini yang kurasakan?

Ia bertanya, dan aku jawab. Sampai ia mengerti. Ia membuka dirinya, dan aku dengarkan. Sampai masalahnya selesai. Ia mengajak, dan aku ikut. Sampai aku pulang malam.

Biasanya aku tidak pulang malam. Tidak untuk hal yang tidak penting. Apa itu "menongkrong"? Aku tidak pernah dengar. Tidak mau aku membuang-buang waktu, tenaga, dan uangku untuk orang lain.

Bukan cinta.

Lalu apa?

Dunia luar terlalu membingungkan. Orang lain terlalu ruwet. Mari kita kembali ke dalam.